Memotivasi Mahasiswa Planologi Jadi Penilai

0
1401
Ni Luh Asti Widyahari, praktisi penilai, foto bersma mahasiswa planologi ITSB, Cikarang.

Ni Luh Asti Widyahari, praktisi penilai yang mudah berbagi ilmu penilaian, baik di kalangan penilai, termasuk mahasiswa Planologi. Asti kerap menjadi pembicara mewakili profesi penilai di kancah internasional. Kali ini berbagi ilmu penilaian, memotivasi dan memperkenalkan profesi penilai di kalangan mahasiswa Planologi, ITSB, Cikarang.

Penilaian.id—Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB) Cikarang, Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), menyelenggarakan seminar nasional bertema “Profesi Penilai dan Kaitannya dengan Ilmu Keruangan”. Seminar itu dibuka Ketua Program Studi Perencana Wilayah dan Kota, Desiree M. Kipuw, ST., MT. dan diikuti sekitar 85 mahasiswa Planologi (Perencanaan Wilayah dan Kota), Arsitektur, dan Desain Interior, ITSB, Cikarang, yang berlangsung di Aula Lantai 4 Kampus ITSB, Kota Deltamas, Cikarang, 15 November 2019 lalu.

Sebagai pembicara seminar praktisi penilai, Ni Luh Asti Widyahari, ST., MT., dalam pemaparannya membahas kontribusi Pordi PWK dalam dunia penilaian, peran profesi, dan jasa penilaian, hubungan prodi dengan profesi penilai, hingga lulusan PWK ini bisa menekuni profesi penilai.

Sebagai pembicara tunggal, Ni Luh Asti, tidak mengulas PWK, namun menekankan pada pentingnya materi kuliah program studi ini mampu berkontribusi dalam kehidupan nyata. Seperti bidang Planologi—jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Kurikulum yang dipelajari mencakup tata ruang, zonasi, infrastrukur, transportasi, teknik, ekonomi makro, ekonomi mikro, kompensasi, cost benefit analysis, perancangan destinasi wisata, perencanaan kawasan, perancangan kawasan, pengembangan kawasan, pola ruang, struktur ruang, pembiayaan, dan lainnya.

Ni Luh Asti Widyahari menjelaskan tanpa disadari mahasiswa belajar banyak hal. Jauh sebelumnya, ada teman kuliah yang mengatakan tidak puas kuliah di PWK, dimana ilmunya dirasa tidak dalam, dia ingin kuliah yang lain, yang super detail. Tapi tahukah Anda bahwa belajar banyak hal itu sangat bermanfaat, tahu A sampai Z?

Lebih lanjut, dengan mengetahui banyak hal, sangat bermanfaat untuk melakukan analisis perencanaan wilayah dan kota. Dengan belajar Planologi, apa keuntungan dan manfaatnya, mengapa harus memahami banyak hal dari A sampai Z? Dengan belajar mendalam banyak topik, yang jelas bermanfaat untuk membangun cara berpikir secara komprehensif, daya analis yang tinggi, dan kemampuan berencana. “You develop your knowledge, not just about you or your expertise, but also global situations.” terangnya.

Lebih lanjut Asti menjelaskan seseorang boleh sangat ahli untuk yang detail, namun bila tidak memahami hubungan makro dengan kondisi mikro, ya percuma saja. Seperti bicara tata guna lahan, pertama yang dikaji lingkup global, nasional, provinsi, kabupaten, kota, kemudian zonasi. Dengan pengetahuan itu, Asti ingin membuat bangga mahasiswa Planologi. “Siapa yang tidak bangga menjadi mahasiswa Planologi, punya kemampuan seperti itu.” ungkapnya.

Perencana Wilayah dan Kota

Semua hal yang dipelajari di Planologi, belum sepenuhnya disadari membentuk pengetahuan dan cara berpikir (shape our knowledge and our thinking). Berpengaruh terhadap cara berpikir, paham hal-hal teknis dan di luar teknis, sampai soft skill. Seorang Planologi memiliki berbagai macam soft skills, berkomunikasi, pengambilan data, wawancara, menyusun laporan, hingga presentasi.

Ni Luh Asti Widyahari yang juga berpraktisi sebagai penilai di KJPP MBPRU & Rekan memberikan contoh saat dia mengambil kuliah S1, yang menghindari presentasi. Tidak nyaman bicara di hadapan orang banyak saat melakukan presentasi. Namun, saat dia ambil kuliah S2, keadaan memaksa, dia harus berani melakukan presentasi. Karena terlatih melakukan presentasi, skill mulai terbentuk dan merasa enjoy, dan intinya mulai terbiasa dengan presentasi. Di tempat kerja terbiasa dan enjoy melakukan presentasi, hingga menjadi pembicara internasional menjadi hal yang biasa. Itulah yang ditularkan ke mahasiwa Planologi dan memberikan semangat untuk terus disiplin meningkatkan skill dan pengetahuan.

Intinya, tambah Asti, enjoy the journey. Nikmati, karena telah nyebur ke jurusan Planologi. Seperti belajar Mitigasi Kebencanaan, bila sudah nyebur ke kolam, ibarat ikan, yang harus dilakukan adalah adaptasi agar tetap survive. Dari situ yang harus dilakukan adaptasi, karena mitigasi sudah tidak bisa dilakukan. “Tapi adaptasi bisa, itu kan yang dipelajari di PWK, ilmu kita sangat berguna,”

Lalu apa hubungannya penilai dan planologi. Penilai adalah seseorang yang memiliki kualifikasi, kemampuan, dan pengalaman dalam melakukan kegiatan praktek penilaian untuk mendapatkan nilai ekonomis sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki (SPI 2018).

Sedangkan penilaian adalah proses pekerjaan untuk memberikan estimasi dan pendapat atas nilai ekonomi suatu objek penilaian pada saat tertentu sesuai dengan SPI dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penilaian dilakukan untuk tujuan jual-beli, lelang, penjaminan hutang, laporan keuangan, pengadaan tanah untuk kepentingan umum, asuransi, pasar modal, dan lainnya.

Sementara bidang usaha Penilaian mencakup Penilaian Sederhana, Personal Properti, Penilaian Properti, dan Jasa Penilaian Bisnis. Selain melakukan pekerjaan penilaian, penilai juga bisa melakukan pekerjaan konsultasi pengembangan properti, desain sistem informasi aset, manajemen properti, studi kelayakan usaha, jasa agen properti, pengawasan pembiayaan proyek, studi penentuan sisa umur ekonomi, studi penggunaan tertinggi dan terbaik (HBU), dan penasihat keuangan. “Jika ingin tahu lebih banyak tentang Penilai atau Penilaian bisa membaca buku KEPI & SPI, website MAPPI, PMK 101/2014 dan perubahannya, dan baca Penilaian.id. Semua tersedia,” terangnya.

Ni Luh Asti Widyahari memperkenalkan sekilas alur proses penilaian. Sebelum menilai objek, atau melihat objek penilaian, penilai memahami kondisi umum, yang mempengaruhi aset. Yakni misalnya perlu mengumpulkan data umum, tata guna lahan, peraturan zonasi, data-data yang berkaitan dengan kondisi wilayah, kota, dan lingkungan. “Itu sudah dipelajari di Planologi ini,” tambahnya. Termasuk market analysis, kondisi ekonomi yang ada sekarang, gambaran market properti seperti apa, trendnya bagaimana.

Lalu siapa yang terbiasa melakukan market analysis? Siapa yang terbiasa melakukan analisis lokasi?

Lokasinya bagaimana, banjir tidak, bagaimana pengaruh fasilitas umum terhadap properti yang akan dinilai. Lalu melakukan analisis data dengan analisis pasar, permintaaan dan penawaran properti yang ada, studi pasarnya bagaimana. Sebelum menilai properti juga melihat analisis penggunanan tertinggi dan terbaiknya. Apakah properti itu dinilai berupa tanah kosong, dinilai seluruhnya, apa yang membedakan, penggunaan tertinggi dan terbaiknya, siapa yang terbiasa menghitung KDB, KLB? Tentunya prodi Planologi

Penilai juga bisa memberikan jasa Studi HBU ataupun feasibility study (studi kelayakan). Bagaimana cara analisisnya. Seperti tanah kosong di jalan Rasuna Said/Sudiman, atau di pusat Kota Jakarta. Pemilik tanah ingin memanfaatkan tanah itu supaya menghasilkan manfaat ekonomis. Pendapatan yang tertinggi dari tanah itu. Pilihannya dia terpikir untuk membangun gedung kantor, apartemen, atau hotel. Bagaimana cara analisisnya.

Dari situ penilai akan cek dulu regulasinya seperti apa, cek apakah pembangunan fisiknya memungkinkan atau tidak. Apakah secara finansial menguntungkan. Lalu mana yang menghasilkan nilai tertinggi/produktivitas maksimum dari properti. “HBU memiliki 4 kriteria: secara hukum diizinkan, secara fisik dimungkinkan, secara finansial menguntungkan, menghasilkan nilai tertinggi (produktivitas maksiumum) dari properti,” tambahnya.

Selain itu, penilai juga bisa melakukan Studi Optimalisasi Aset Pemda ingin memanfaatkan/mengelola asetnya. Ini dilakukan dengan cara apa yang paling menguntungkan. Pemda bisa memilih Build Operate Transfers (BOT), Build Transfer Operate (BTO), Kerjasama Operasi (KSO), Joint Venture (JV) dan bentuk yang lain. “Jurusan planologi sudah tidak asing dengan pola kerjasama seperti itu. Artinya sudah dipelajari di bangku kuliah,” terangnya.

Asti memberikan contoh sebuah Studi Kelayakan atau HBU terhadap areal tapak seluas 10 ribu meter persegi. Itu bisa dibangun rumah, apartemen, sekolah, siapa yang bisa menggambar tapaknya. Perencanaan tapak, tentunya Planologi. Ini bangun di sini, ini bangun di sana, perhatikan konturnya, perhatikan kebisingannya, perhatikan sumber cahayanya, di mana salurannya, strukturnya bagaimana, pola ruang kawasannya bagaimana. Dan lain analisa yang dibutuhkan. Lalu dibuat dokumen perencanaan pengadaan tanah. Siapa yang akan jago mengerjakan. Lagi-lagi Planologi juga. Apakah sesuai dengan tata ruang diatasnya? RTRW, RPJP, RPJM. Siapa yang mempelajari itu saat kuliah? Planologi!

Lulusan PWK tidak hanya paham ilmu keruangan, tapi banyak juga aspek lainnya. Jika berniat masuk menjadi Penilai, lulusan PWK satu langkah di depan. Selanjutnya tinggal update ilmu penilaian. “Saya diskusi dengan penilai senior, apa saja kelebihan lulusan Planologi dibandingkan lulusan lain jika ingin menjadi penilai. Lulusan Planologi telah dibekali ilmu makro, teknis, dan ekonomi,” jelas Ni Luh Asti.

Saat ini, designasi S1 untuk bidang penilai belum ada, baru ada S2 ada di UGM dan USU. Namun, untuk S1 ada mata kuliah yang mengajarkan penilaian di D4 UGM (sekolah vokasi UGM), Politeknik Bandung (D4) lebih ke manajemen aset, lalu S1 PWK Universitas Tarumanegara. Dulu real estate tapi berubah menjadi PWK. Lalu ada D3 STAN menjadi penilai pemerintah. “Semua bisa jadi penilai asal terus belajar, karena lingkup penilaian makin ke depan makin beragam,” tambahnya. (Tim)

LEAVE A REPLY