Koefisien Dasar Bangunan (KDB)

0
10461
Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan yang dapat dibangun dengan luas lahan/bidang tanah yang dikuasai. 

 

Persyaratan dalam izin pemanfaatan ruang terdiri dari berberapa hal, diantaranya:

  1. Garis Sempadan Bangunan (GSB)
  2. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
  3. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
  4. Koefisien Dasar Hijau (KDH)
  5. Koefisien Tapak Basement (KTB)
  6. Koefisien Wilayah Terbangun (KWT) dan
  7. Kepadatan Bangunan.

Umumnya 4 informasi persyaratan yang ada adalah KDB, KLB, Tipe Bangunan, dan Tinggi Bangunan.

Sekarang, mari kita bahas lebih mendalam mengenai KDB atau Koefisien Dasar Bangunan.

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung yang dapat dibangun dan luas lahan/bidang tanah yang dikuasai. 

 

Contoh:

Anda memiliki tanah/bidang seluas 10.000 m2

KDB ditetapkan sebesar 50%

Maka, luas total lantai dasar bangunan yang dapat dibangun di atas lahan adalah

= KDB x Luas total tanah

= 50% x 10.000 m2

= 5.000 m2.

Perlu diketahui bahwa KDB di suatu wilayah atau bahkan di kawasan yang sama dapat berbeda-beda. Tujuannya tergantung dari sasaran tiap wilayah/kawasan itu sendiri misalnya apakah ingin mendapatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang lebih luas, menjaga resapan air, atau menjaga batas ketinggian bangunan maksimal.

Untuk lebih tepatnya, berdasarkan Lampiran I Permen ATR/BPN No. 17 tahun 2017, perhitungan KDB memperhatikan ketentuan sebagai berikut:

  • Perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar;
  • Luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan tersebut dihitung penuh 100%;
  • Luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisisisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan dihitung 50%, selama tidak melebihi 10% dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan;
  • Teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai;
  • Dalam perhitungan KDB luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ;
  • Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock), perhitungan KDB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan dalam kawasan tersebut terhadap total keseluruhan luas kawasan.

Perlu diingat terutama untuk penilaian dan studi, adalah ketika melakukan perhitungan KDB, perhatikan pula koefisien-koefisien lainnya secara matematis. Selain itu, Penilai ketika melakukan penilaian ataupun studi Pemanfaatan Tertinggi dan Terbaik (HBU) sering melakukan perhitungan pemanfaatan ruang seperti ini dan juga disandingkan dengan Market Analysis.

Sebagai contoh, apakah misalnya KDB maksimal dengan tidak maksimal akan lebih menguntungkan yang maksimal? Secara umum benar demikian, namun diingat perlu dicross-check juga dengan kondisi market properti yang bersangkutan. Hal ini sebenarnya sangat jarang ditemukan, karena pengembangan akan cenderung dilakukan dengan memaksimalkan KDB dan lebih memilih untuk mengadjust pada komponen lainnya.

 

Semoga bermanfaat!

 

-Asti Widyahari-
Property Valuer & Consultant

Lulusan S1 dan S2 Perencanaan Wilayah dan Kota, ITB.

 

Sudah baca mengenai KLB? Baca di sini ya: Koefisien Lantai Bangunan.

 

Video singkat tentang KDB, KLB, dll di:

MENGHITUNG KDB, KLB, KDH, & KB – Singkat, Jelas, Padat (SLIDE).

 

LEAVE A REPLY